Friday, 10 March 2017

Modul Praktikum Pengkondisian Sinyal Forex

LAPANAN PRAKTIKUM Stellenangebot Merken. Pengkondisi sinyal Tgl Penyerahan Laporan: 9 Januari 2007 LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI DAN PENGUKURAN PENGKONDISIAN sinyal Dosen Pembimbing. Ignatius Riyadi Mardyanto, Vereinigte Staaten von Amerika Disonun oleh. Glücklich Ramadhani Saputra 06221042 Partner. Nama Nim. Ilhamdi 06221038 Iwan Husaeni 06221039 Kamalluloh 06221041 Lutfi Lukman N 06221043 M. Taufik Hidayat 06221044 M. Adam 06221045 Nurlinda Ali Rahman 06221046 TEKNIK KONVERSI ENERGI Politeknik Negeri BANDUNG 2007 Glücks Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal Modul Praktikum Nullspan Konverter I. Tujuan 1. Mampu membuat rangkaian Span und Nullwandler. II. Dasar Teori Ausgangssaatu tranduser jarang yang sesuai (Übereinstimmung) dengan suatu pengkondisi sinyal, ADC, display atau komputer. Misalnya Suatu Wägezelle mempunyai sensitifitas 20 Volt lb. sedangkan tanpa beban Ausgang Yang dihasilkan 18 mVolt, sementara Verkleidungsmeßinstrument digital memerlukan pengubah 0,01 m Volt lb. Atau ADC memerlukan sinyal 0 sampai 5 Volt, sementara Ausgang tranduser hanya sebesar 2,48-3,90 Volt. Rangkaian Null und Spannweite Pada Percobaan ini memperlihatkan cara untuk mengatasi permasalahan seperti di atas. Dengan membuat sinyal linier melalui Suatu Spanne (Steigung) und Null (perpotongan dengan Sumbu y Pada koordinat kartesischen) Akan didapat Parameter-Parameter Yang berhubungan dengan tegangan Yang diinginkan. Span und Null-Wandler dapat dibuat dengan menggunakan rangkaian penjumlah (invertierenden Sommer), seperti tampak pada gambar-9.1. Rumus umum Spannweite und Nullwandler. Glückliches Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal Harga Rf dipilih relatif besar, sehingga perubahan sedikit Pada Ri tidak Akan membebani Sensor, harga (nilai) Ri dapat dihitung, demikian pula nilai Ros dapat dihitung bila V dapat ditentukan. III. Alat dan Bahan 1. Kit praktikum 2. Osiloskop 3. Multimeter (2 buah) IV. ProblemProsedur Percobaan Diketahui Suatu tranduser Temperatur menghasilkan tegangan keluaran sebesar 2,48 V untuk kondisi Temperatur mindestens dan menghasilkan keluaran 3,90 V untuk kondisi Temperatur maksimum. Keluaran tranduser akan dihubungkan dengan suatu ADC dengan eingegeben ADC 0 - 5 Volt. Buatlah suatu rangkaian Spannweite und Nullwandler untuk Problem di atas. Glückliches Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal Modul Praktikum Spannung zum gegenwärtigen Konverter I. Tujuan 1. Mengetahui teknik pengubah sinyal tegangan ke arus dengan metoda. 1- schwimmende Last 2- geerdete Last 2. Mampu membuat pengubah sinyal tegangan ke arus II. Dasar Teori Pengiriman sinkt dalam bentuk tegangan menimbulkan banyak permasalahan. Tahanan seri antara keluaran pengkondisi sinyal dan beban bergantung Pada jarak kabel Yang digunakan, Temperatur dan bagustidaknya sambungan Yang digunakan. Bahkan kebocoran beberapa mV sepanjang kabel dapat mengakibatkan kesalahan pengukuran. Dengan menggunakan Modus transmisi arus diharapkan, beban dapat menerima semas informasi sündigen yang dikirimkan. Pengubahan sinyal tegangan ke arus dilakukan dengan dua cara, yaitu. 1. Schwimmende Last 2. Erdung Abbildung 8-3 a. Rangkaian pengubah tegangan ke arus (schwimmende Last) b. Kurva karakteristik perancangan Lesezeichen / Weitersagen Lucky Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal Beschreibung: Arus yang lewat RS Catatan. VRS IR - Last e2 - e1 III. Alat dan Bahan 1. Kit praktikum 2. Multimeter (2) IV. Problem Prosedur Percobaan Diketahui suatu ADC dengan eingegeben ADC 0 - 5 Volt. Buatlah suatu rangkaian Spannung zu Stromwandler untuk problem di atas. Dengan Ausgang keluaran yang akan dihubungkan dengan Transmitter dengan masukan arus (Eingang) 4 - 20 mA. Glückliches Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal Praktikum Pengubah Arus ke Tegangan I. Tujuan 1. Mempelajari teknik pengubah sinyal dari sündigen arus ke sinyal tegangan. 2. Mampu membuat pengubah sinyal arus ke tegangan. II. Dasar Teori Sekali sündigen arus dikirimkan pada suatu lokasi, sinyal ini harus diubah menjadi tegangan. Biasanya alat-alat Anzeige atau Aufzeichnung Daten mempunyai Eingang dalam bentuk tegangan. Untuk pengiriman arus dalam bentuk geerdet Ladung, cara pengubahan ke tegangan adalah dengan memasang suatu RL, seperti tampak pada Abbildung 9-6. Untuk pengaturan Spannweite und Null disediakan Ie, U2, dan U3 sebagai Puffer, mengisolasi RL dan Ri. Permasalahan yang ada pada teknik geerdet Verweis adalah bahwa arus Boden Yang harus dikembalikan Antara Sender dan Empfänger sehingga akan menyebabkan drop tegangan. Perbedaan potensial pada gemahlen bisa beberapa volt. Untuk mengatasi hal tersebut digunakan teknik schwimmende Last. Arus dikirim dan dikembalikan melalui beban dengan dua kawat. Kenaikan atau pengaruhnya akan saling menghilangkan (Übersetzung) Abbildung 9-7 memperlihatkan teknik ini. Glückliches Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal Yakinkan bahwa Ri Rspan untuk mengantisipasi kesalahan pembebanan. III. Alat dan Bahan 1. Kit praktikum 2. Multimeter (2) IV. ProblemProsedur Percobaan Diketahui suatu Übermittler dengan masukan arus (Eingang) 4 - 20 mA. Buatlah suatu rangkaian Strom zu Spannungswandler untuk problem di atas. Dengan Ausgang keluaran yang akan dihubungkan dengan Gleichrichter dengan masukan tegangan (Eingang) 0 - 5 Volt. Glückliche Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal V. Analisa DATA Modul praktikum Zero-Span-Wandler Kurva karakteristik perancangan Kalibrier - und dem Null Konverter Data Modul Praktikum Zero Span Nein V in e in V-Ausgang (V) Keterangan (V) (V) simulasi perhitungan praktikum 1 -2,473 2,48 0,02 0,02 3,4 2 -2,473 2,6 0,44 0,44 3,6 3 -2,473 2,8 1,14 1,14 3,8 4 -2,473 3,0 1,84 1,84 4 5 -2,473 3,3 2,89 2,89 4,4 6 -2,473 3,6 3,94 3,94 4,65 7 -2,473 3,9 4,99 4,99 4,95 Lucky Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. (V) (V) (V) (V) simulasi perhitungan praktikum Keterangan 1 - 15 0 4,01 4,00 4,23 2. Pengkondisi sinyal Modul praktikum Spannungs - Strom - Wandler Kurva karakteristik perancangan Pengubah te gangan ke arus Daten Modul Praktikum Spannungs - Strom - 1 7,04 7,20 -15 6,92 3 -15 2 10.07 10.40 8.10 4 -15 3 13.11 13.60 10.47 5 -15 4 16,14 16,80 13,03 6 -15 5 19.17 20.00 15.40 Glücklich Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal Modul praktikum Strom zu Spannungswandler Kurva karakteristik perancangan Datenmodul Praktikum Strom zu Spannungswandler Nein I in V Ausgang (V) Keterangan (mA) simulasi perhitungan praktikum 1 4 0.1 0 0.26 Hasil 2 8 1.3 1.2 1.89 praktikum 3 12 2,5 2,4 3,61 berszahl 4 16 3,7 3,6 4,86 ​​Dari kelompok 5 20 4,9 4,8 lain Lucky Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal VI. PEMBAHASAN Seperti Yang Kita Ketahui Bahwa Pengkondisianischen sinyal bagian dari penyusun system pengendali dibawah ini akan dibahas secara umum. Sistem Kendali Lup Tertutup (Lengkap) Elemen Dasar Sistem Pengendalisches Lup Tertutup: 1. Elemen Pengukuran Mengukur besarnya variabel yang akan dikendalikan (Y) dan menghasilkan sündigen hasil pengukuran (Ym) yang sebanding. 2. Elemen Pembanding Membandingkan apakah nilai Parameter proses Yang dikendalikan (diwakili oleh Ym) sudah sesuai dengan nilai Parameter proses Yang dikehendaki (diwakili oleh R). Hasil perbandingannya disebut sinyal kesalahanerror (e) Yang dinyatakan dalam persamaan: e R Ym 3. Elemen Kendali Memutuskan Langkah apa yang akan diambil berdasarkan Informasi sinyal kesalahan (e) tersebut. Hasil keputusannya (O) diperoleh berdasarkan perhitungan - perhitungan tertentu dan hasilnya dikirimkan ke Einheit koreksi untuk dilaksanakan. Elemen kendali menghitung besarnya koreksi yang diperlukan oleh Einheit koreksi. 4. Elemen Koreksi Menerjemahkan perintah Dari Einheit kendali dan melaksanakan perintah tersebut dalam bentuk aksi nyata (M) Yang berpengaruh langsung terhadap perubahan nilai Parameter proses yang akan dikendalikan. 5. Elemen Proses Merupakan obyek dari suatu sistem pengendalisch. Ausgang proses merupakan nilai Parameter proses yang akan dikendalikan (Y). Glückliches Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal Elemen Pengukuran terdiri Dari dua Verput: 1. Sensorelement (Sensor) Merupakan bagian Yang pertama kali mendeteksi besarnya Variabel proses (Y). Elemen ini akan menghasilkan Ausgang yang sebanding dengan variabel proses, akan tetapi belum tentu sesuai dengan format pengendali yang digunakan. 2. Übermittler Merupakan bagian yang berfungsi untuk mengolah sinyal Ausgangssensor menjadi sinyal yang cocok dengan Format pengendali (Ym). Elemen Koreksi terdiri Dari tiga Verput: 1. Pengkonversi sinyal 1n Memodifikasi sinyal keluaran pengendali Agar memiliki Format Yang cocok bagi Verput penggerak (Aktuator). 2n Terjadi penguatan daya danatau perubahan bentuk fisis sündlich. 2. Aktuator 1n Merupakan bagian yang mentranslasikan sinyal Ausgabe pengkonversi sinyal menjadi suatu aksi nyata pada elemen kendali akhir. 3. Elemen Kendali akhir (endgültige Kontrollelement) 1n Merupakan Bagian Yang Memiliki Pengaruh Langsung Pada Perubahan Variabel Proses (Ausgang Proses). 2n Ausgang Dari Verput kendali akhir merupakan Eingang Dari proses Yang dapat dimanipulasidiubah-Ubah besarnya Agar Prozessgröße (Regelgröße) besarnya sama dengan Sollwert Kendala permasalahan dan Pemecahan masalah Pada saat praktikum 1 Komponen Yang sudah rusak Pada Kit praktikum, sebelum praktikum semua komponen di Cek terlebih dahulu dan menganti menukar dengan bausatz praktikum yang lain. 2........................................, 3 Alat penunjang lain yang tidak sesuai (Spg. Versorgungsteil), mengganti dengan Spg. Versorgungsteil yang lain. Glückliches Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi Energi LAPORAN PRAKTIKUM Arbeitsblatt. Pengkondisi sinyal VII. Kesimpulan 1 Rangkaian Zero-Span merupakan Verput penguat, yang berfungsi sebagai penguat sinyal Dari sebuah Sensor untuk disampaikan ke Verput berikutnya Agar Ausgabe Suatu tranduser jarang Yang sesuai (Match) dengan Suatu pengkondisi sinyal, ADC, Anzeige atau Computer dapat di minimalisasi. 2 Rangkaian Spannung zu Stromwandler merupakan elemen Sender yang berfungsi untuk mengolah sinyal Ausgangssensor menjadi sinyal yang cocok dengan Format pengendali (Ym). Pada praktikum ini Rangkaian Spannung zu aktuellen Konverter mengubah sinyal tegangan menjadi sinyal arus listrik. Pengiriman sinyal dalam bentuk tegangan menimbulkan banyak permasalahan, seperti. 1 Tahanan seri antara keluaran pengkondisi sinyal 2 Beban bergantung Pada jarak kabel Yang digunakan 3 Temperatur 4 Sambungan Yang digunakan 5 Kebocoran tegangan walaupun beberapa mV sepanjang kabel Dengan menggunakan Rangkaian Spannungs-Strom-Wandler diharapkan, beban dapat menerima semua Informasi sinyal Yang dikirimkan. 1 Rangkaian Stromwandler merupakan Verput Pengkonversi sinyal, yang berfungsi memodifikasi sinyal keluaran pengendali Agar memiliki Format Yang cocok (tegangan) bagi Verput penerimanya (Gleichrichter) Yang biasanya berupa pengkondisi sinyal, ADC, Anzeige atau Computer an Spannung prüfen. 2 Dalam aplikasinya semua rangkaian memiliki gangguan baik Dari komponen atau Yang Verschiedenes, yang menyebabkan transmisi sinyal Kurang sesuai dengan Yang diharapkan. VIII. Daftar Pustaka Gunterus, Frans. Falsafah dasar: sistem pengendalian proses. Jakarta: Erlangga. Mardiyanto, I. R. 2004. Arbeitsblatt Instrumentasi dan pengukuran. Bandung: Polban. Harjatmo, R. Agoeng. . Kuliah Pengaturan. Bandung: Polban. Glückliches Ramadhani Saputra06221042D3T. Konversi EnergiMODUL PRAKTIKUM PENGENDALIAN BAB I DASAR teori 1. Konsep Sistem Pengendalian Suatu Proses Instrumentasi merupakan Gerät atau peralatan Yang digunakan untuk menunjang sebuah sistem dalam menjalankan proses tertentu untuk tujuan tertentu pula. Setiap kegiatan proses dalam sebuah system von industri senantiasa membutuhkan peralatanperalatan otomatis untuk mengendalikan parameterparameter prosesnya. Otomatisasi tidak saja diperlukan demi kelancaran Operasi, Datenschutz und Sicherheit, ekonomi, maupun mutu produk, tetapi Lebih mengutamakan Pada kepentingan penggunaan Manusia (Benutzer) sebagai kontrol Handbuch, kecepatan, kualitas, serta kuantitas Yang dihasilkan dibandingkan dengan menggunakan kontrol Handbuch, dalam hal ini Manusia sebagai pengendali Dan pelaku keputusan. Hampir semua proses Industri dalam menjalankan proses produksinya membutuhkan bantuan sistem pengendali, contohnya pengendalian di Suatu proses pengilangan Minyak. Proses di suatu pengilangan minyak tidak mungkin dapat dijalankan tanpa bantuan fungsi sistem pengendalisch. Ada banyak pengendalischen yang harus dikendalikan di dalam suatu proses. Diantaranya Yang Lattenzaun Umum, adalah tekanan (Druck) didalam sebuah Schiff atau Pipa, Aliran (flow) didalam Pipa, Suhu (Temperatur) di Einheit Proses seperti Wärmetauscher, atau permukaan Zat cair (Pegel) disebuah Tangki. Ada beberapa Parameter gelegen diluar keempat Verput diatas Yang cukup Penting juga dan juga Perlu dikendalikan karena kebutuhan spesifik proses, diantaranya. PH, Geschwindigkeit, berat, lain sebagainya. Gabungan serta kerja alatalat pengendali otomatis itulah yang dinamai dengan sistem pengendalischen Proses (Proses-Kontrollsystem). Sedangkan semua peralatan yang Membrane sistem pengendali disebut Instrumentasi pengendali proses (Prozesskontrolle Instrumentierung). Dan sekarang tidak lagi memakai pe-ngendalischen manuellen kontrol tetapi masih tetap dipakai pada beberapa aplikasi ter-tentu. Untuk itu, sistem dibuat otomatis peran Betreiber didalam sistem pengen-dalian manuelle digantikan oleh sebuah alat yang disebut controller. Tugas pelaksana keputusan (aksi Regelventil) tidak lagi dilakukan oleh Operator (Manusia), tetapi atas perintah Controller Yang operasinya dikendalikan oleh Benutzer. Untuk keperluan pengendalian otomatis, Ventil harus dilengkapi dengan alat yang disebut Stellantrieb, sehingga Einheit Ventil sekarang menjadi Einheit yang disebut Steuerventil. Seminare peralatan pengendalian inilah (Kontrolleinrichtung Steuerventil) yang disebut sebagai instrumentasi pengendali proses. Pengendalisch pada umumnya menghendaki proses berjalan dengan stabil. Proses Yang Stabil Merupakan Sebuah Proses Dimana Besarnya Sollwert Sama Dengan Besarnya Meassurment Variabel, Sehingga Fehler Sama Dengan nol. Fehler Yang sama dengan nol ini dapat mengakibatkan tidak adanya manipuliert Variabel untuk membuka atau menutup Ventil Yang sebuah menjadikan Proses Yang berjalan Secara kontinyu tanpa gangguan. Namun Pada kenyatannya perubahan Last, kinerja mekanik Instrument, perubahan Soll dan faktor faktor Yang gelegen dapat mengakibatkan Suatu proses tidak stabil. Hal ini lazim terjadi pada suatu sistem pengendalian, sehingga perlu sebuah Steuergerät untuk mengendalikan suatu proses agar dapat kembali ke posisi stabil. Gambar. Diagramm Blok Aliran proses Didalam pengendalian otomatis sesuatu Yang Perlu diketahui definisi Dari istilah istilahnya yaitu: Proses (Prozess) adalah tatanan peralatan Yang mempunyai Suatu fungsi tertentu. Eingang proses dapat bermacam macam, yang pasti ia merupakan besaran yang di manipulasi oleh abschließendes Stellglied atau Steuerventil Agar-Messung variabel sama dengan Sollwert. Eingabe proses ini disebut juga manipulierte Variable. Kontrollierte Variable adalah besaran atab variabel yang dikendalikan. Besaran ini adalah diagramm kotak disebut juga ausgang proses atau proses variabel. Manipulierte Variable adalah eingegeben dari suatu proses yang dapat dimanipulasi atau diubahubah besarnya agar prozess variabel atau gesteuerte variable besarnya sama dengan set point. Distrubance adalah besaran lain, selain manipuliert Variable, yang dapat menyebabkan berubahnya kontrolliert variabel. Besaran ini lazim disebut Belastung. Sensing-Element adalah bagan suatu ujung suatu sistem penguluran (Mess-System). Contoh Erfassungselement yang banyak dipakai misalnya Thermoelement atau oriface Platte. Pada Beutel ini juga bisa Erkrankung Sensor atau primäre Element. Übermittler adalah alat yang berfungsi untuk membaca sinyal Erfassungselement, dan mengubah menjadi sinyal yang dapat dimengerti oleh Steuerpult. Transduser adalah Einheit pengalih sinyal. Transmitter als Transduser mem-punyai fungsi Yang serupa, walaupun tidak sama benar. Transduser lebih bersifat umum, sedangkan Sender lebih khusus dalam pemakaiannya dalam sistem pengukuran. Messgröße atau Messgröße adalah sinyal yang keluar dari Sender. Besaran ini merupakan cerminischen Besaranya sinyal sistem pengukuran. Sollwert adalah besar Prozessvariable yang dikehendaki. Sebuah Controller akan selalu berusaha menyamakan kontrolliert variabel dengan Sollwert. Fehler adalah selisih antara Sollwert dikurangi Messgröße. Fehler bisa negatif dan juga bisa positif. Bila Sollwert lebih besar dari gemessen Variable maka error akan menjadi positif. Sebaliknya jika Sollwert Lebih Kecil Dari gemessen Variable maka Fehler menjadi negatif. Controller adalah Verput Yang mengerjakan tiga Dari empat tahap Langkah pengendalian, yaitu membandingkan Sollwert dengan Messgröße, menghitung berapa banyak koreksi Yang Perlu dilakukan, dan mengeluarkan sinyal koreksi Yang sesuai dengan hasil perhitungan. Steuerung sepenuhnya mengantikan peran manusia dalam mengendalikan sebuah proses. Steuereinheit adalah bagian dari Steuergerät yang menghitung besarnya koreksi yang diperlukan. Eingang Steuerungseinheit adalah Störung, dan outputnya adalah sinyal yang keluar dari Steuerpult. Steuereinheit memiliki Übergangsfunktion yang tergantung pada jenis Steuerpult. Ausgangssteuereinheit adalah hasil penyesuaian matematik Übertragungsfunktion dengan memasukkan nilai Störung sebagai Eingang. Endgültige Kontrollelement adalah bagian akhir dari instrumentasi sistem pengendalian. Bagian ini berfungsi untuk mengubah meßgröße variabel dengan cara memanipulasi besarnya manipuliert variabel, berdasarkan perintah controller. 2. Akusisi Daten Pengendalian Proses Merupakan Sebuah Schlaufe Aliran sinyal-sinyal Dari masing-masing Instrument pendukungnya. Sinyal sinyal yang mengalir melelui Instrument ini Membran-Daten-Berupa Daten-Daten sesuai dengan karakteristik instrumentnya. 2.1 Sensor Sensor merupakan kompunen Instrument yang terpenting dalam kinerjanya mensensing perubahan variabel dalam suatu proses yang natinya Daten yang diterima diteruskan ke komponen penguat sinyal. Sinsor dalam proses pengendalian ada banyak sekali, keberadaan sensor dalam proses pengendalischen pada dasarnya dibedakan dalam: 1. Berdasarkan variabel yang di sensing ein. Sensor suhu (LM35, NTC, Bimetall, Termocouple, dll) b. Fühlerdruck (Manometer oriface, dll) c. Sensor Durchfluss (Oriface, Elektromagnetik Durchfluss, Turbin, dll) d. Sensor-Ebene (Dipragma-Kapsel, Potensio meter, dll) e. Fühler PH, Vikositas, Kelembapan, Intensitas cahaya dll 2. Berdasarkan dasar kerjanya a. Sensor Pneumatik b. Sensor Elektrik c. Sensor Hidrolik Sensorischen dalam proses pengendalian pada prinsipnya sama tidak ada yang lebih baik atau jelak, karena penggunaan sensor didasarkan pada proses yang terjadi dalam suatu sistem pengendalian. Contoh beberapa Sensor: 1. Sensor Suhu elektrik LM35 Sensor ini mendeteksi perubahan suhu dan dari perubahan tersebut ditransmisikan dalam bentuk tegangan. Gambar. Sensor Suhu LM35 2. Sensor pneumatik Durchfluss dan Druck oriface Sensor ini didasarkan pada perbedaan tekanan antara masing-masing permukaan oriface. Signalaufbereitung Penguat sinyal Komponen Instrument ini merupakan komponent elektronika yang berfungsi Untuk menguatkan sinyal dari sensor agar cukup kuat untuk dapat dibaca oleh instrument selanjutnya. Gambar. Rangkaian Penguat sinyal Dalam rangkasischen Penguat sinyal ini terdapat null dan span untuk melakukan pengesetan sinyal outputnya. IV dan VI Konverter Konverter ini adalah Konverter yang berfungsi untuk mengkonversikan besaran sinyal yang berupa arus menjadi sinyal tegangan dan sebaliknya. Diperlukannya konverter jenis ini dikarenakan sinyal Listrik Yang digunakan sebagai sumber Energi Pada Pflanze Yang Telah distandarkan menggunakan sinyal Arus (4-20 mA), sedangakan sinyal sinyal Yang dipakai oleh Kontroller, dalam hal ini mikroprosesor Pada komputer menggunakan sinyal-sinyal tegangan (0-5 V). Spannung zu Stromwandler (VI Konverter) Untuk mendapatkan konverter ini diperlukan suatu rangkaian yang menggunakan op-amp untuk menghasilkan hasil pengkonversian yang linear. Rangakaischen Op-Amp yang menghasilkan fungsi tersebut dapat dilihat pada Gambar. Analisa dari, rangakaian, menunjukkan, hubungan, dari, arus, dan, tegangan, sebagai, berikut 8230 (2.13) dan dengan perbandingan resistansi 8230 (2.14) Gambar. RangkaianVI Konverter 3 Strom zu Spannungswandler (IV Konverter) Gambar. Rangkaian IV Konverter 3 Agar sinyal yang dikeluarkan oleh Sender dapat diolah oleh kontroller maka sinyal arus dari Sender harus dirubah dulu menyadi sinyal tegangan. Rangkaian pada Gambar dapat Mitgliedschaft pengkonversian tersebut. Dikarenakan analisa dari rangkaian tersebut menghasilkan Formel: 8230 (2.15) Pada setiap pengukuran selalu diperlukan pengkondisianischen sinyal, tergantung pemilihan jenis sensor dan sistem secara keseluruhan. Karena sinyal dalam suatu proses kontrolle tergantung dari spesifikasi yang dibutuhkan, maka diperlukan suatu petunjuk umum untuk merancang suatu pengkondisian sinyal, yaitu. menentukan obyek pengukuran (Parameter variabel proses, Bereich pengukuran Dari Variabel proses, akurasi Yang diperlukan Dari pembacaan Sensor, noisegangguan Dari proses pengukuran), pemilihan Sensor (Parameterausgang, fungsi Transfer, Verant terhadap Waktu, Range-Ausgang), perancangan pengkondisian sinyal (Parameter Ausgang , Reichweite Ausgang yang diperlukan, impedansi Eingang yang diperlukan, impedansi Ausgang) Pada perancangan ini kita Membrane suatu konverter yang akan merubah sinyal arus menjadi tegangan dan sebaliknya. Hal ini Diperlukan Karena IO Dari Kontroler Adalah Teganan Sedangkan IO Elemen Pendukung Lainnya Adalah Arus Listrik. Disini suatu sinyal yang nicht standar perlu distandarkan (4 20mA, 0 5V) dan dilinearkan. ADC (Analog zu Digital-Konverter) Pengubah analoges ke digitales atau ADC (analog zu digitalem Konverter), adalah alat yang berfungsi untuk mengubah sinyal analoges ke digital. Gambar ADC Metode pendekatan berturut-Türüt 2 Prinsip kerja rangkaian di atas adalah jika sinyal masukan Muley konversi Dari Einheit kendali diberi logika 0, maka SAR (sukzessiven aproximation Register) Akan mereset sehingga keluaran Vout Einheit DAC (Digital-Analog) Menjadi 0. Proses Konversi di awali dengan pengesetan bit paling berarti (MSB) registrieren SAR oleh Einheit kendali. Selanjutnya Daten digital dalam Register SAR dikonversikanischen analogen oleh Einheit pembanding. Bila Vout lebih besar dari Vin maka Einheit pembanding akan mengirim sinyal negatif ke Einheit kendali. Dengan sinyal negatif ini, Einheit kendali akan mereset bit paling berarti (MSB) registrieren SAR. Sebaliknya bila Vout lebih kecil dari Vin, Einheit pembanding akan mengirim sinyal positif ke Einheit kendali. Dengan sinyal positif ini, Einheit kendali akan tetap mengeset bit paling berarti (MSB). Pada pulsa Uhr berikutnya Einheit kendali akan mengeset bit yang lebih rendah yaitu bit ke 7 Register SAR. Kemudian Daten dikonversikan oleh Einheit DAC, dan hasil konversi Vout dibandingkan dengan sinyal masukan Vin. Sinyal hasil perbandingan akan menentukan Einheit kendali untuk mengeset atau mereset Register SAR. Demikian seterusnya proses ini berlangsung sampai nilai Vin sama dengan Vout. Apabila konversi telah selesai, Einheit kendali mengirim sinyal selesai konversi yang berlogika rendah. Tepi turun sinyal ini Akan mengisikan Daten digital Yang ekuivalen dengan nilai Vin, ke dalam Register penahan Gambar 2.13 Pin-Pin ADC 0804 2 Pada Unter bab ini Akan dijelaskan mengenai ADC-Spezifikation, Typ dan Schnittstelle. ADC Spezifikation Fischeri dari sebuah ADC adalah untuk menghasilkan sebuah sinyal digital, dengan inputan tegangan analog. Pada dasarnya ADC adalah sama dengan DAC, Akan tetapi Pada ADC Yang berhubungan dengan Bilangan Biner adalah Ausgabe-nya keakurasian dan kelinieran Dari ADC adalah sama halnya dengan Yang dimiliki DAC. Hal yang dianggap penting dari ADC Spezifikation adalah Umwandlung Zeit atau waktu pengkonversian. ADC Typ Pada ADC ini akan dijelaskan secara singkat tentang berbagai macam als jenis komparator. ein. Preisvergleich guenstiger. de Dual Slope ADC c. AD Ausgangscodes Programmierbare Peripheral Interface 8255 PPI 8255 dikemas Dalam 40-Pin-Dual in Linie Yang dirancang untuk mengin - Schnittstelle bermacam-macam fungsi IO Pada sistem mikroprosesor (CPU). Pada Gambar 2.13 adalah gambar Diagramm blok dari PPI 8255. Pada gambar tersebut terlihat 2 kelompok yang disebut sebagai kelompok kendali (Gruppensteuerung). Dua Gruppensteuerung tersebut mengendalikan empat Kelompok IO, yaitu: Port A (PA0 PA7) Port-B (PB0 PB7) Port-C Untere (PC0 PC3) Port C-Upper (PC4 PC7) Grup steuern Ein mengendalikan fungsi Dari Port A dan Hafen C Obere sedangkan Grup Kontrolle B mengendalikan Hafen B Dan Hafen C Unterer, semua bagian dari PPI 8255 dihubungkan dengan interne Busdaten dan melalui interne Busdaten inilah dapat dikirimditerima Daten-Daten oleh setiap Hafen. Fungsi Anstecknadel pada 8255 Pada Bagan ini akan menerangkans semua Anstecknadelbuttons Yang terdapat pada PPI 8255 dan fungsi-fungsinya. Pin-pin 8255 ditunjukkan Pada Gambar 2,14 Penjelasan fungsi pin-pin adalah sebagai berikut: D0 D7 (Jalur Data) Merupakan inputan Dari PPI 8255, semua Daten diterima dan dikirim melalui Jalur ini. CS (Chip auswählen) CS aktif low dan 8255 siap berkomunikasi dengan CPU. RD (Read) RD aktif niedrig dengan CS terlogika, maka 8255 memungkinkan untuk mengirim Daten ke CPU sehingga dapat dikatakan CPU melakukan pembacaan Daten Dari 8255. WR (Write) WR aktif niedrig dengan CS terlogika niedrig, maka 8255 memungkinkan menerima Steuerwortregister. A0 A1 Kombinasi kedua jalur alamat ini dapat menentukan pemilihan salah satu dari tiga Hafen dan satu Steuerwort registrieren. Zurücksetzen Fungsi dari pin ini adalah untuk mereset PPI dengan PPI dengan sinyal hoch. Pada saat riset Steuerwortregistrierer terhapus dan ketiga Hafen stellte sebagai Modus Eingang ein. Port A Port A mempunyai 8-Bit-Daten diegan penyangga dan pengunci untuk keluar-ein Dan pengunci untuk masukan. Dapat diprogram sebagai masukan atau ke-luaran. Port-B-Port B mempunyai 8-Bit-Daten dilengkapi dengan peyangga dan pengunci Daten 8-Bit-masukan dan keluaran, Sama dengan Port A Yang dapat diprogram sebagai masukan dan keluaran. Port C Mempunyai pengunci dan penyangga Daten 8-Bit-dan penyangga masukan tanpa pengunci, pintu ini Menjadi 2 buah pintu Yang Masing-Masing terdiri Dari 4 Bit, TIAP pintu 4-Bit-mempunyai pengunci 4-Bit-dan dapat dipergunakan sebagai keluaran sinyal pengendali serta masukan sinyal Status berkaitan Dengan-Anschluss A Dan-Anschluss B DAC (Digital-zu-Analog-Wandler) Pengubah digital ke analog (DAC) mempunyai fungsi kebalikan dari pengubah analog ke digital (ADC). DAC berfungsi untuk merubah besaran-besaran digital yang berasal dari komputer menjadi besaran analog yang dalam hal ini dipergunakan untuk menggerakkan aktuator. Konverter Digital-ke Analog mempunyai penggunaan Yang berdiri sendiri, seperti digitaly Display-Treiber atau Servo-Positioning System gesteuert, tetapi penggunaannya Yang utama adalah hubungan dengan rangkaian gelegen Yang membu-tuhkan Suatu konversi AD Yang mempunyai ketetapan Yang tinggi. Sampai batasan tertentu, suatu penampilan sistem ANZEIGEN ditentukan oleh penampilan dari converter DA. Beberapa-Konverter DA adalah: a. Gewichtete Stromquelle b. R 2R Leiternetzwerk c. Einschwingzeit DAC 0808 merupakan Konverter 8-Bit-Digital-Analog-ke monolitik dengan inputan TTL dan CMOS kompatibel Yang memiliki Waktu sebesar 150 ns dengan konsumsi Daya 33 mW Pada catu Daya 5 Volt dengan Tingkat keakurasian relatif adalah 0,19 nieder. Gambar 2.14 DAC 0808 National Semiconductors 2 DAC menerima informasi digitales dänisch für Männer und Frauen. Inforasi digitale tersebut dalam bentuk bilangan biner dalam stelle yang sesuai. Sebernarnya ketika dikoneksikan dengan komputer bilangan biner ini dinamakan kata biner atau kata komputer. Sedangkan Ziffer Dinamakan-Bit. Maka dari itu 8 Bit kata dalam bilangan biner memiliki 8-stellig. Seperti 101101102. DA Conerter mengkonversi kata digitale menjadi tegangan analoge dengan skala analoge ausgang jika seluruh bit adalah nol dan nilai maximal dari keseluruhan bit adalah satu. Hal ini dapat dinyatakan dalam sistim matematis bila bilangan biner dinyatakan dalam bilangan yang sangat kecil. Dalam hal ini keluaran daro DA Konverter dapat didefinisikan dengan persamaan dengan menggunakan skala dari tegangan rferensi. Vout VR b1 2-2 bn 2-n (2.7) Dimana. Vout. Ausgang tegangan analog VR. Tegangan referensi b1 b2 bn. kata Biner n Bit Vout nol Minimum adalah dan maximale adalah determinasi Dari ukuran kata Biner karena keseluruhan Bits Menjadi satu dan pendekatan VR ekivalensi Desimal sebagai penambahan Bit Dari Bilangan gesetzt. Oleh karena itu Bilangan 4-Bit-V max: Vmax VR 2 -1 b2 2 2 Mrd. 2 -2 8230. (2,8) Dan kata 8-Bit-mmpunyai nilai Maximum: Vmax VR 2 -1 2 -2 2 -132 -4 2 -5 2 -6 2 -7 2 ​​-8 0,9961VR (2,9) Resolusi konversi Resolusi konversi juga merupakan fungsi Dari Bit Dari Suatu kata, Bit yang Lebih banyak dengan perubahan yang Lebih kecil pada Ausgang analog Dari perubahan satu Bit dalam Bilangan Biner dengan resolusi yang Lebih tinggi Kemungkinan perubahan terkecil adalah sebagai Beschreibung: Vout VR 2 n (2.10) Dimana. Vout. Perubahan Ausgang Terkecil VR. Tegangan eferensi n. nomer Dari kata Bit Spesifikasi DAC Beberapa spesifikasi Dari DAC yaitu diantaranya: 8211 Resolusi (Step Size) Resolusi ditentukan sebagai perubahan terkecil Yang dapat terjadi Pada keluaran analog sebagai hasil Dari perubahan Pada masukan digital. Entschließung adalah 1V, karena Vout tidak dapat berubah lebih kecil dari 1 V bila mengubah nilai digital. Resolusi selalu sama dengan timbangan Dari LSB dan juga diacu sebagai Schrittgröße, ua karena merupakan besarnya Vout Yang berubah Pada saat masukan digital berubah Dari 1 Schritt ke Schritt berikutnya. Keluaran Dari Sebuah Zähler Biner 4 Bit menyediakan masukan untuk DAC. Selama Zähler melalui siklus 16 tahap yang diatur oleh sinyal Uhr, maka keluaran DAC merupakan sebuah gelombang Treppenhaus yang membentuk 1 V pro Schritt. Bila Zähler berada pada keadaan 1111, keluaran dac berada pada nilai maksi-mumnya sebesar 15 V, Yakni Pada Keluaran Skala Penuhnya. Bila siklus Zähler Kembali Pada keadaan 0000, keluaran DAC Kembali ke 0 V. Jadi resolusinya adalah 1 V. Hal Yang Perlu diperhatikan bahwa Treppe mempunyai 16 Level Yang berhubungan dengan 16 tahap, tetapi hanya ada 15 Schritt atau lompatan antara Ebene 0 V dan skala Penuh . Jadi rumus umumnya adalah : Jumlah level adalah 2N Jumlah step adalah 2N 1 Jadi didapatkan bahwa resolution (step size) adalah sama dengan faktor proporsi dari hubungan masukan keluaran DAC. Keluaran analog k x masukan digital (2.11) dimana : k jumlah tegangan (atau arus) per step 8211 Persen Resolusi Walaupun resolusi dapat diekspresikan sebagai jumlah tegangan atau arus per step, akan dapat berguna apabila kita mengekspresikannya sebagai persen dari keluaran skala penuh. Jika keluaran skala penuh maksimum adalah 15 V ukuran step adalah 1 V, maka persen resolusinya adalah : resolusi x 100 .(2.12) x 100 6,67 Misalkan bila sebuah DAC 10 bit mempunyai ukuran step 10 mV. Untuk menentukan skala penuh dan persen resolusinya yaitu dengan cara : DAC 10 bit akan memberikan 210 8211 1 1023 step sebesar 10 mV Skala outputnya. 10 mV x 1023 10,23 mV dan resolusi x 100 0,1 Hal ini menggambarkan bahwa persen resolusi akan bertambah kecil bila jumlah dari bit masukan bertambah. Persen resolusi juga dapat dihitung dengan cara : resolusi x 100 (2.10) Untuk N bit jumlah stepnya adalah 2N 1. Jadi untuk contoh diatas kita dapatkan : resolusi x 100 x 100 0,1 Hal ini berarti bahwa jumlah bit menentukan persen resolusinya. Maka besar jumlah bitnya resolusinya makin kecil. 8211 8211 Akurasi Untuk menetapkan akurasi ada beberapa cara yang paling banyak dipergunakan adalah kesalahan skala penuh (full scale error) dan kesalahan linearitas (linearity error) yang biasanya diekspresikan sebagai persen dari keluaran skala penuh. Sebagai skala penuh adalah deviasi maksimal dari nilai idal DAC dan nilai idealnya dipresentasikan sebagai persen dari skala penuh. Berdasarkan perhitungan diatas yang mempunyai akurasi 0,01 F. S. Karena konverter mempunyai skala penuh maka diperoleh : 0,01 x 9,375 V 0,9375 mV. Hal ini berarti bahwa keluaran DAC pada setiap saat dapat menyimpang sebesar 0,9375 mV dari nilai yang diharapkan. DAC sederhana mempergunakan op amp amplifier penjumlah dengan binary weighted resitor. Kesalahan linearitas adalah deviasi maksimum dari ukuran step yang ideal. Beberapa DAC yang lebih mahal mempunyai kesalahan skala penuh dan kesalahan linieritas hingga serendah 0,001 FS. Umumnya DAC mempunyai akurasi dalam daerah 0,01 hingga 0,1 persen. sehingga kita perlu mengerti betapa pentingnya kompabilitas antara akurasi dan resolusi dari DAC. Sangat tidak logis kalau misalnya resolusi 1 sedangkan akurasinya 0,1 atau kebalikannya. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas sebuah DAC dengan suatu resolusi sebesar 1 persen dari keluaran skala penuh 10 V dapat menghasilkan tegangan keluaran analog dalam batasan 0,1 V dari tiap nilai yang dikehendaki, bila akurasinya sempurna. Tidak masuk akal bila mempunyai akurasi dengan ketepatan 0,01 dari skala penuh (1 mV) yang tentunya sangat mahal, bila resolusinya sudah membatasi nilai yang diinginkan ke 0,1 V. Hal yang sama berlaku untuk resolusi yang terlampau kecil (banyak bit) sedangkan akurasinya buruk. Hal ini berarti membuang bit masuk. Misalkan suatu DAC 8 bit mempunyai skala penuh dari 2 mV dan sebuah kesalahan skala penuh sebesr 0,5 FS. Untuk kemungkinan memperoleh daerah kerja keluaran untuk sebuah masukan 100000000 yaitu untuk ukuran step adalah 2 mA255 7,84 A. Karena 10000000 12810. maka keluaran ideal adalah 128 x 7,84 A 1004 A. Kesalahan yang terjadi dapat sebesar 0,5 x 2 mA 10 A. Jadi keluaran aktual dapat berkisar antara 994 hingga 1014 A. 3. Mode Controller Controller merupakan peralatan utama dalam pengendalian suatu variabel proses. Pada controller ini terjadi proses pengolahan sinyal input pengendalian dari transmitter. Controller akan membandingkan sinyal input dengan setting value yang kita kehendaki. Apabila sinyal input terlalu besar dari setting value yang diberikan maka controller akan berusaha memperkecilnya begitu pula sebaliknya. Besarnya koreksi dari kesalahan input tergantung dari mode controllernya. Mode controller tersebut terdiri dari mode proportional, mode integral, mode derivatif dan kombinasinya. Adapun macam dari aksi pengontrolannya, yaitu : Mode Kontroller ONOFF Aksi pengendalian dari controller ini hanya mempunyai dua kedudukan, maksimum atau minimum, tergantung dari variable terkontrolnya, apakah lebih besar atau lebih kecil dari set poin. Persamaanya adalah: m N1 jika e lt 0 m N2 Jika egt 0 dimana. m manipulated variable N1 harga maksimum dari m (ON) N2 harga minimum dari m (OFF) Pada gambar terlihat, jika error sering naik turun dengan cepat, maka fariabel termanipulasi (m) akan sering sekali berubah dari maksimum ke minimum atau sebaliknya, hal ini dalam prakteknya tidak diseukai, untuk itu pada pengendalian diberi gap. Mode Proportional ( P ) Controller Proportional ( P ) controller merupakan output yang sebanding dengan inputnya tergantung dari sensitivitasnya. Sensitivitasnya tergantung dari proportional band ( PB ), yaitu prosentase perubahan input yang dapat menghasilkan 100 perubahan output. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut : Mv Kc. e b Selanjutnya ditulis sebagai k yaitu gain controller Dimana. Mv output controller ( ) PB proportional Band ( ) e error ( ) b bias ( ) Mode Integral ( I ) Controller Pada proportional ( p ) controller selalu menghasilkan offset agar menghasilkan output. Jadi untuk menghilangkan offset tersebut dibutuhkan pengendali lain yang menghasilkan output lebih besar atau lebih kecil dari bias pada saat input ( error ) sama dengan nol. Pengendali yang memenuhi kriteria ini adalah pengendali integral ( I ) controller. Sifat dasar dari I controller yang dapat menghasilkan output pada saat input nol. Secara matematis persamaan integral controller dapat di tulis sebagai berikut : Mv Gc b Dimana. Mv output controller ( ) Ti integral time e error ( ) Gc gain b bias ( ) Mode Proportional plus Integral ( PI ) Controller Proportional Integral controller digunakan dalam aksi pengendalian untuk menghilangkan offset yang terjadi pada pengendalian proportional. Offset perlu dihilangkan karena untuk pengendalian besaran fisis yang harus konstan, dan berenergi cukup besar akan sangat berbahaya. Disamping itu karena sifat pengendali integral yang tidak mengeluarkan output sebelum selang waktu tertentu. Pengendali integral juga memperlambat respon. Oleh karena itu, umumnya pengendali integral dipasang paralel dengan pengendali proportional, sihingga dikenal dengan pengendali PI ( PI Controller ). Secara matematis persamaan PI controller dapat ditulis sebagai berikut : Mv Kc ( e ) b Dimana. Mv output controller ( ) Ti time integral e error ( ) b bias ( ) Time integral merupakan faktor terpenting dalam PI controller terutama dalam masalah kalibrasi controller. Time integral didefinisikan sebagai waktu yang dikehendaki dari integral action, sehingga sama dengan output proportional controller dalam mengikuti error sebagai fungsi step. Dengan demikian time integral yang tepat dapat digunakan sebagai kalibrasi PI controller. Mode Derivatif ( D ) Controller Pengendalian ini merupakan pengendalian yang dapat mengeluarkan output di saat saat awal, hal ini menyebabkan pengendali D sangat cocok untuk mengendalikan proses variabel temperatur, sebab dapat bereaksi secara cepat terhadap perubahan input. Secara matematis pengendali ini dapat ditulis sebagai berikut : Mv Kc Td b Dimana. Mv output controller ( ) Kc gain Td Time Differential b bias ( ) Pengendali D controller tidak pernah dipakai pada proses variabel yang bergelombang ( bernoise ) seperti pengendali level dan flow. Sinyal yang keluar dari kedua proses variabel ini biasanya mengandung gelombang yang oleh pengendali D akan dideferensialkan menjadi pulsa-pulsa yang tidak beraturan, hal ini akan mengakibatkan kerusakkan pada peralatan mekanik yang digunakan. Mode Proportional plus Differential ( PD ) Controller Pengendali differential tidak pernah dipakai ssndirian karena sifatnya yang hanya mengeluarkan output bila ada perubahan input. Maka dari itu pengendali D dapat dipasang paralel dengan pengendali proportional. Jenis pengendali ini biasanya disebut dengan pengendali PD. Secara matematis pengendali PD dapat dinyatakan sebagai berikut : Mv Kc ( e Td ) b Dimana. Mv output controller ( ) Kc gain Td Time Differential e error ( ) b bias ( ) Mode Proportional Integral Differential ( PID ) Controller Untuk menutup semua kekurangan dari pengendali PI dan PD maka ketiga mode yang digabungkan menjadi pengendali PID. Unsur P, I dan D masing-masing berguna untuk mempercepat reaksi sistem, menghilangkan offset dan mendapatkan energi ekstra pada saat awal perubahan lood. Namun kesemua kelebihan pada pengendali PID ini tidak dapat digunakan untuk pengendali proses yang tidak mengandung noise. Secara matematis pengendali ini dapat dinyatakan sebagai berikut : Mv Kc ( e Td ) b Dimana. Mv output Td Time Differential Kc gain Ti Time Integral b bias E PV 8211 SV e error E SV PV Dari semua tipe pengendali yang telah dibahas di atas terdapat beberapa hal penting yang perlu dingat, diantaranya adalah : 1. PB yang kecil akan membuat pengendali menjadi sensitif dan cenderung membawa loop berosilasi, sedangakan untuk PB besar akan meninggalkan offset yang besar juga. 2. Ti yang kecil bermanfaat untuk menghilangkan offset, tetapi dapat membawa sistem menjadi lebih sensitif dan lebih mudah berosilasi, sedangkan Ti yang besar belum tentu efektif dan juga cenderung membuat respon menjadi lambat. 3. Td yang besar akan menjadikan respon cenderung cepat, sedangkan Td yang kurang memberikan nilai ekstra disaat-saat awal. Gambar 3.5. Kurva reaksi dari kontroler P, PI dan PID 2.1 Praktikum Pengendalian Mode ONOFF dengan Controller Mikroprosesor Asisten. S Sari Ardiarti 2403.030.005 Pengendali ONOFF dapat bekerja hanya pada dua posisi yitu ON dan OFF atau maksimum dan minimum. Kerja pengendalian ONOFF seringkali didapat dengan memanfaatkan dead band suatu proess switch, dead band disini dapat dipakai untuk menggambarkan suatu keadaan dan menyatakan jarak setting. Pengendali on-off dapat digunakan apabila proses memang tidak dapat mentolerir fluktuasi process variable pada batas-batas kerja pengendalian on-off. Peralatan yang digunakan: 1. 1 set simulasi pengendalian ONOFF dengan variabel control temperatur. 2. Termometer digital 3. Multimeter digital 4. Air dan tempatnya Metode pelaksanaan praktikum 1. Aturlah peralatan sesuai dengan gambar. 2. Aktifkan controller dan beri nilai pada set poin 3. Start controller dan amati loop proses yang terjadi. 4. Amati dan catat perubahan suhu pada termometer digital 5. Amati dan catat perubahan meassurment variabel pada controller 6. Amati dan catat perubahan error pada controoler 7. Amati dan catat kondisi kontroller ON atau OFF. 8. Aturan tambahan dari asisten. 2.2 Praktikum Pengendalian Mode PID dengan controller SLCD Asisten. Aulia Rakhman 2403.030.009 Pengendali PID merupakan gabungan dari pengendali PI dan PD. Pengendali ini banyak dipakai hampir di semua sistem pengendalian proses. Unsur P, I dan D masing-masing berguna untuk mempercepat reaksi sistem, menghilangkan offset dan mendapatkan energi ekstra pada saat awal perubahan load. Namun kesemua kelebihan pada pengendali PID ini tidak dapat digunakan untuk pengendali proses yang tidak mengandung noise. Peralatan yang digunakan: 1. 1 set controller elektrik SLCD 2. Mini plan Workshop Instrumentasi 3. Multimeter digital 4. Power supply 5. Stavolt 6. Tool post Metode pelaksanaan praktikum 1. Mengatur peralatan sesuai petunjuk asisten 2. Mengaktifkan controller dan plan 3. Mengatur controller dalam kondisi manual 4. Mengatur nilai SV, PV. MV bias, PB dan Ti sesuai petunjuk asisten 5. Aksi direct atau reverse di A 6. Mencatat untuk. Direct 100, Reverse 0 7. Dari hasil percobaan dengan PB (Sesuai petunjuk Asisten), catat data yang diperoleh yaitu : 1. Hasil percobaan Proportional Controller PB SV PV Direct Reserve e MV e MV Ukur Hitung Ukur Hitung 2. Hasil Percobaan Proportional Integral Controller Ti SV PV t (menit, detik,1100 detik ) MV Hitung PB50 PB100 PB200 PB50 PB100 PB200 10 50 50 8211 8211 8211 8211 8211 8211 2.3 Praktikum Pengendalian Mode PID dengan controller PC Asisten. Novan Danis 2403.030.013 Pengendali PID merupakan gabungan dari pengendali PI dan PD. Pengendali ini banyak dipakai hampir di semua sistem pengendalian proses. Unsur P, I dan D masing-masing berguna untuk mempercepat reaksi sistem, menghilangkan offset dan mendapatkan energi ekstra pada saat awal perubahan load. Namun kesemua kelebihan pada pengendali PID ini tidak dapat digunakan untuk pengendali proses yang tidak mengandung noise. Peralatan yang digunakan: 1. 1 Personal komputer beserta PPI8255 2. Mini plan Workshop Instrumentasi 3. Rangkaian ADCDAC 4. Rangkaian I to V V to I 5. Multimeter digital 6. Power supplay 7. Stavolt 8. Tool post Metode pelaksanaan praktikum 1. Mengatur peralatan sesuai dengan petunjuk asisten 2. Mengaktifkan komputer dan software yang disediakan 3. Mengaktifkan rangkaian elektronika yang telah disediakan 4. Menjalankan loop pengendalian 5. Amati dan catat perubahan variabel : a. Meassurement variable b. Manipulated variabel c. Error d. Proses variabel


No comments:

Post a Comment